ARA dan ARB Pada Saham : Apa dan Mengapa bisa terjadi


ARA dan ARB

Artikel ini akan membahas hal yang berkaitan dengan ARA dan ARB pada saham. Selamat membaca dan semoga memberikan edukasi bagi para pembaca setia.

Apa itu ARA dan ARB?

ARA merupakan singkatan dari Auto Reject Atas dan ARB adalah singkatan Auto Reject Bawah. Kedua istilah ini digunakan sebagai batas maksimum penurunan sebuah saham (ARB) dan batas maksimum kenaikan sebuah saham (ARA). Berikut ini ilustrasi nya :

Saham Perusahaan X yang harganya Rp.1.000/lembar dan sedang diperdagangkan di bursa pada hari itu, maka saham itu akan fluktuasi di sekitar harga Rp. 750 – Rp. 1.250. Maksudnya adalah harga Rp. 750/saham adalah harga terendah jika saham itu turun (ARB) dan Rp. 1250 adalah harga tertinggi (ARA) saham X pada hari hari perdagangan tersebut. Range penurunan dan kenaikan saham berada pada 25% dari harga pembukaan di hari tersebut. Tidak semua saham memiliki presentasi ARA dan ARB yang sama, tergantung harga saham tersebut. Setiap saham memiliki ketentuan dalam penetapan ARA dan ARB.

Lihat Juga : Mengenal Istilah Gaps Pada Saham

Ciri – Ciri Saham yang akan kena Auto Reject

Berikut ini ciri-ciri saham yang akan mengalamai Auto Rejection :

  • Auto rejection Bawah (ARB) terjadi ketika harga saham turun secara signifikan. Ciri-ciri saham yang terkena ARB adalah tidak ada lagi order di antrian beli (bid).
  • Saham yang terkena ARA adalah tidak ada lagi order di antrian jual (offer).

 

Batasan ARA dan ARB :

Persentase batasan Auto Rejection yang berlaku dapat dilihat di website Bursa Efek Indonesia. Batasan auto rejection yang berlaku saat ini sesuai Keputusan Direksi Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 antara lain:

  • Harga saham Rp 50 – Rp 200, batas naik dan turunnya dalam sehari adalah 35 persen.
  • Harga saham Rp 200 – Rp 5.000, batas naik dan turunnya dalam sehari adalah 25 persen.
  • Sisanya, Harga saham di atas Rp 5.000, batas naik dan turunnya dalam sehari hanya 20 persen.

ARA dan ARB

Catatan :

  • Khusus saham yang Initial Public Offering (IPO) atau baru listing, batasannya sebesar 2 (dua) kali dari persentase auto rejection.
  • Maksimal pembelian saham sebanyak 50.000 lot atau 5 persen dari jumlah efek tercatat (mana yang lebih kecil). Jika lebih dari itu, maka akan kena auto rejection.
  • Sejak pandemi, ARB diubah menjadi 7 persen (auto reject asimetris) untuk menahan penurunan harga saham dan IHSG secara signifikan.

Lihat Juga : Tips Trading Saham bagi Pemula

Faktor penyebab Auto Reject

Ada beberapa Faktor yang mempengaruhi kenaikan atau penurunan harga saham secara signifikan sehingga mencapai Auto Reject Bawah atau Auto Reject Atas. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mungkin saja sahamnya kurang likuid sehingga harganya mudah naik atau turun.

 

Penutup

Nah, sekarang kita sudah mengenal istilah Auto Rejection Atas dan Bawah. Jika Anda baru saja mulai investasi saham, sebaiknya hindari saham yang terkena ARA atau ARB. Semoga memberikan informasi.

 

 

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan Terbaru

Arsip